Oleh:
Haryadi, S.Pd.I
Sutrisno adalah siswa Madarsah Tsnanawiyyah Darussalam Desa Tanjung. Dia adalah anak pasangan suami istri dari Bapak Tarwa dan Ibu Nurlela yang bertempat tinggal di Dusun Tanjung Baru Desa Tanjung Darul Takzim Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti. Adapun pekerjaan seharian Bapak Tarwa hanyalah bertani cabai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Sutrisno adalah siswa Madarsah Tsnanawiyyah Darussalam Desa Tanjung. Dia adalah anak pasangan suami istri dari Bapak Tarwa dan Ibu Nurlela yang bertempat tinggal di Dusun Tanjung Baru Desa Tanjung Darul Takzim Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti. Adapun pekerjaan seharian Bapak Tarwa hanyalah bertani cabai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Sejak awal ia masuk ke MTs Darussalam hingga sekarang dia duduk di kelas 3 Madrasah kondisi jalan yang dilewati masih sama. Yakni terbuat dari papan yang dipasang sepanjang jalan sekitar ± 3 Kilo Meter.
Setiap hari ia harus melewati jalan dengan lebar papan 12 Centimeter ini dengan susah payahnya. Karena tidak jalur lain yang bisa ditempuh melainkan jalan tersebut sedangkan jarak rumahnya dengan sekolah sekitar ± 8 Kilo Meter. Dan antara desa Tanjung Darul Takzim dan Tanjung terpisah oleh sungai Suir Kanan dan hal ini membuat aktivas masyarakat setempat harus menyeberang jika ingin ke kota. Begitu juga dengan Sutrisno ia harus hemat karena setiap hari ia harus punya uang untuk ongkos menyeberangi sungai tersebut.
Keadaan penyeberangan tidaklah semulus yang dikira akan tetapi sering terjadi kendala seperti keadaan jembatan yang licin sehingga tak jarang Sutrisno dan kawan terpeleset dan terjatuh ke sungai sehingga baju dan buku-buku mereka basah semuanya. Jika sudah tercebur kesungai alamat mereka tidak bisa belajar lagi karena tidak mungkin nyaman jika belajar dalam kondisi basah kuyub, apalagi kondisi air sungai yang tercemar oleh limbah pabrik sagu yang ada di sepanjang sungai Suir Kanan. Airnya berbau tidak enak dan menyebabkan kulit gatal-gatal jika terkena air tersebut.
Begitu juga kondisi jalan ini tidak selamanya kering jika datangnya hujan maka kondisi jalan akan mengapung disebabkan banjir. Tak jarang bajunya basah kuyub saat tiba di sekolah. Hal tersebut tidak membuat ia mundur dari bangku sekolah bahkan saat ini ia bisa menyelesaikan pendidikannya di madrasah tersebut.
Sutrisno juga punya harapan seperti anak-anak lainnya yang tinggal di kota yakni untuk bersekolah dengan nyaman dan mendapakn ilmu dan pengetahuan yang cukup.
Kondisi jalan seperti ini tidak seharusnya kita pandang sebelah mata hendaklah pemerintah daerah lebih focus untuk memperhatikan keadaan sebuah kampung yang masih dalam wilayah pemerintahannya. Hendaknya jalan ini segera mendapat perhatiaanya agar Sutrisno dan kawan-kawan juga dapat merasakan nyaman untuk mendapatkan pendidikan seperti mereka yang sudah mendapatkan fasilitas di kota.
baca juga..
